internasional
Jerman Kembali Selidiki Kejahatan Nazi
Thursday, 06 October 2011 12:20
"Walaupun terlambat, dan para pelaku sudah sangat tua, namun ini sangat penting."
Pengadilan Jerman kembali membuka penyelidikan terhadap para penjaga kamp Nazi pada Perang Dunia II. Mereka akan diselidiki keterlibatannya dalam pembunuhan jutaan Yahudi yang ditahan di kamp tersebut.
"Walaupun terlambat, dan para pelaku sudah sangat tua, namun ini sangat penting. Ini menandakan adanya jaksa generasi baru yang ingin menyelidikinya dengan serius, sekaligus menunjukkan bahwa mesin birokrasi Jerman menaruh perhatian terhadap kejahatan ini," kata seorang Rabbi Yahudi, Abraham Cooper, dilansir dari CNN, Rabu 5 Oktober 2011.
Langkah Jerman ini merupakan langkah tindak lanjut setelah sebelumnya pada Mei lalu seorang penjaga kamp Nazi ditahan oleh pengadilan Jerman. Penjaga tersebut, John demjanjuk, dideportasi dari Amerika Serikat untuk diadili di Jerman pada 2009.
Karena usianya yang tua dan sakit-sakitan, Demjanjuk tidak dipenjara dan ditempatkan di panti jompo selama pengadilan. Kendati tidak ada bukti langsung yang membuktikan keterlibatannya, namun terdapat 28.000 pengaduan yang menunjukkan bahwa dia bekerja di kamp saat pembunuhan berlangsung. Rencananya, dia akan mengajukan banding.
"Dulu mungkin ada ribuan tersangka, namun kini hanya sekitar ratusan. Mereka juga sudah tua dan berpenyakitan dan dianggap tidak dapat membela diri di pengadilan. Jumlah mereka yang dapat dihukum semakin berkurang," kata Cooper.
Cooper adalah ketua Pusat Simon Wiesenthal, sebuah organisasi HAM Yahudi yang didirikan oleh di Los Angeles, AS. Simon Wiesenthal adalah seorang Yahudi yang berhasil lolos dari kamp Nazi pada tahun 1943. Dia kehilangan 89 anggota keluarganya pada insiden pembantaian Yahudi terbesar yang dinamakan holocaust.
Melalui catatan yang dibuat oleh Simon, para penyelidik di Jerman akan melacak para mantan anggota Nazi. Selain itu, ketua pemburu Nazi organisasi ini, Efraim Zuroff, melancarkan kampanye untuk mencari atau membuat para Nazi keluar dari persembunyiannya. (umi)
Harga Tragedi 9/11
Wednesday, 28 September 2011 16:59
Perang di Afghanistan dan Irak telah melemahkan ekonomi makro AS.
Peristiwa 11 September 2001, yang dikenal dengan Tragedi 9/11, merupakan ulah Al-Qaeda untuk mencederai Amerika Serikat. Tentu saja, niat itu berhasil. Namun, Osama bin Laden tak pernah membayangkan efeknya. Reaksi Presiden AS ketika itu, George W. Bush, menodai prinsip dasar negeri Paman Sam, menggerogoti perekonomian bangsa itu, serta melemahkan keamanan.
Serbuan ke Afghanistan pasca serangan teroris masih bisa dipahami. Tapi, invasi ke Irak sungguh tak ada kaitannya dengan Al-Qaeda - bagaimanapun kerasnya Bush berupaya mencari-cari hubungannya. Kemudian, perang AS melawan Irak menjadi amat mahal - yang pada awalnya membutuhkan lebih dari US$60 miliar (Rp551,5 triliun).
Ketika saya dan Linda Bilmes menghitung biaya perang yang mesti dikeluarkan AS tiga tahun lalu, angka kasar berada di kisaran US$3-5 triliun. Sejak itu, anggaran kian meningkat. Dengan nyaris 50 persen jumlah tentara yang kembali dan bisa menerima santunan cacat tubuh dan lebih dari 600 ribu veteran yang menjalani perawatan medis, kami menduga bahwa uang bagi tentara yang cacat dan biaya kesehatan akan mencapai sekitar US$600-900 miliar.
Di luar itu, biaya sosial yang muncul seperti tindakan bunuh diri yang diambil oleh para veteran perang (yang beberapa tahun belakangan menyentuh 18 kejadian per hari) dan retaknya rumah tangga tak bisa dihitung secara pasti.
Bahkan, jika Bush mendapatkan maaf atas jasanya menyertakan AS dan negara-negara lain dalam perak melawan Irak, tak ada ampun bagi Bush atas cara yang ia pilih untuk membiayai perang. Sepanjang sejarah, perang Bush itu adalah satu-satunya yang dibiayai sepenuhnya dari pinjaman. Pada saat AS tengah berperang, dengan defisit yang kian meningkat setelah pemotongan pajak di tahun 2001, Bush memutuskan bahwa golongan kaya di negeri itu pantas mendapatkan keringanan pajak.
Hari-hari ini, AS tengah berkutat dengan pengangguran dan defisit. Ancaman yang bisa menjatuhkan AS di masa mendatang dapat dilacak hingga perang di Afghanistan dan Irak. Melonjaknya belanja pertahanan, bersamaan dengan pemotongan pajak, merupakan faktor kunci yang menguak penyebab mengapa AS beringsut dari yang mulanya mencetak keuntungan fiskal hingga 2 persen dari PDB ketika Bush terpilih menjadi dirongrong utang. Belanja langsung pemerintah untuk kedua perang itu mencapai kira-kira US$2 triliun - US$17.000 per keluarga.
Selain itu, saya dan Bilmes menegaskan dalam buku kami yang berjudul "The Three Million Dollar War" (Perang Tiga Juta Dolar) bahwa perang di Afghanistan dan Irak telah melemahkan ekonomi makro AS dan memperuncing defisit serta utang. Kini, gejolak di Timur Tengah memicu membubungnya harga minyak. Bangsa Amerika dituntut mengeluarkan uang lebih banyak demi mengimpor minyak. Padahal, mereka bisa memakai uang itu untuk membeli lebih banyak produk domestik.
Namun, Bank Sentral AS (Federal Reserve) menyembunyikan keburukan itu dengan menciptakan gelembung kredit perumahan yang akhirnya mendorong ledakan konsumsi. Butuh bertahun-tahun untuk mengatasi masalah itu.
Kacau Balau
Ironisnya, perang itu telah bikin keamanan AS (dan dunia) kacau-balau lagi-lagi dengan cara yang tak pernah dibayangkan oleh Bin Laden. Perang yang tak populer akan menyulitkan perekrutan tentara. Tapi, selagi Bush mencoba mengakali Amerika tentang biaya perang, ia tak memberikan sokongan dana cukup bagi para prajurit.
Ia menolak memberikan pengeluaran standar yang dibutuhkan untuk, misalnya, kendaraan lapis baja yang anti-ranjau guna melindungi pasukan. Atau, setidakya, menyediakan cukup tunjangan kesehatan bagi para veteran. Ada pengadilan di AS yang baru-baru ini menyatakan bahwa hak-hak para veteran telah dilanggar. (Hebatnya, pemerintahan Obama meminta bahwa hak veteran mengajukan banding mesti dibatasi!)
Kegagalan militer telah memunculkan kecemasan atas penggunaan kekuatan militer. Dan hal ini cenderung mengancam keamanan Amerika. Namun, kekuatan Amerika yang sejati adalah, melebihi ketangguhan militer dan ekonomi, kekuatan lunaknya: otoritas moral.
Dan, yang satu itu pun telah dilemahkan: seketika setelah AS melanggar hak asasi manusia yang mendasar seperti hak untuk tak mengalami siksaan, dunia sontak mempertanyakan komitmennya kepada hukum internasional.
Di Afghanistan dan Irak, AS dan sekutu-sekutunya tahu bahwa untuk mendapatkan kemenangan jangka panjang, hati dan pikiran harus dicuri. Namun, kesalahan demi kesalahan yang dilakukan pada awal perang memperumit perang yang telah pelik itu.
Efek samping yang ditimbulkannya dahsyat: lebih dari satu juta warga Irak tewas, langsung atau tak langsung, akibat perang. Menurut beberapa kajian, sekitar 137.000 warga sipil tewas dengan mengenaskan di Irak dan Afghanistan dalam 10 tahun terakhir. Di antara bangsa Irak sendiri, 1,8 juta pengungsi mencari tempat aman dan 1,7 juta lainnya kehilangan tempat tinggal.
Tak semua konsekuensi berujung bencana. Defisit yang dialami Amerika agaknya akan menimbulkan kendala anggaran. Belanja militer AS nyaris menyamai belanja militer dunia jika disatukan dua dekade setelah era Perang Dingin berakhir.
Beberapa peningkatan belanja anggaran ditujukan ke Irak, Afghanistan dan Perang Global Melawan Terorisme. Namun, banyak dana yang terbuang sia-sia demi senjata akan dipakai untuk membinasakan musuh, yang jelas-jelas tak ada. Kini, dana itu akan didistribusikan ulang, dan AS kiranya akan mengeluarkan biaya lebih kecil untuk mengusahakan keamanan dalam negerinya.
Al-Qaeda tak lagi jadi menyembul jadi ancaman besar setelah peristiwa 11 September 10 tahun silam. Namun, harga yang harus dibayar begitu besar. Kita akan hidup dengan warisan yang ditinggalkannya dalam waktu lama. Berpikir sebelum bertindak memang ternyata penting.
China Dukung Keanggotaan Palestina di PBB
Tuesday, 27 September 2011 05:21
"China secara konsisten mendukung pembentukan negara Palestina merdeka," kata Menlu China.
Pemerintah China menyatakan dukungan penuhnya atas upaya Palestina memperoleh keanggotaan penuh di PBB. China juga mendukung perundingan damai untuk menyukseskan solusi dua negara.
Dukungan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi, pada pidatonya di sesi debat umum Sidang Majelis Umum PBB ke 66 di Markas Besar PBB New York, Amerika Serikat, Senin 26 September 2011. Upaya Palestina di PBB, ujar Yang, sesuai dengan inti dari solusi dua negara, yaitu Israel dan Palestina berdiri sendiri-sendiri sebagai negara yang berdaulat.
"China secara konsisten mendukung pembentukan negara Palestina merdeka dan mendukung keanggotaan Palestina di PBB," kata Yang, dilansir dari laman China Economic.
"Kami juga mendukung upaya mencapai solusi dua negara melalui negosiasi politik, berdasarkan perbatasan tahun 1967. Negara Palestina merdeka akan menikmati kedaulatan mereka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya," lanjut Yang lagi.
Dalam pidatonya, Yang mengatakan selain perundingan antara kedua negara, perundingan juga perlu dilakukan antara Israel dengan Suriah dan Lebanon. Hal ini, lanjut Yang, demi menciptakan perdamaian yang berkesinambungan dan merata di Timur Tengah.
"Kami berharap komunitas internasional dan berbagai pihak yang peduli dapat menyatukan upaya mereka untuk menyelesaikan proses perdamaian di Timur Tengah ini," kata Yang.
Upaya keanggotaan di PBB oleh Palestina didukung oleh mayoritas negara anggota, termasuk China. Peninjau tetap pemerintah Palestina di PBB, Riyad Mansour, mengatakan saat ini sudah ada 139 dari 193 negara PBB yang mendukung dan mengakui kedaulatan Palestina.
Kendati demikian, usaha Palestina untuk jadi anggota PBB akan sia-sia jika Amerika Serikat melayangkan veto di Dewan Keamanan PBB. Saat ini, proposal keanggotaan tengah dirundingkan di komite penerimaan PBB. Rencananya, Rabu waktu setempat akan dirundingkan lagi di Dewan Keamanan. (umi /VIVAnews/Rd)
China Larang Perayaan Makan Daging Anjing
Written by Administrator Thursday, 22 September 2011 10:34
"Itu bukan acara karnaval tapi sudah jadi ajang pembantaian"
China melarang karnaval tradisional yang menggelar acara pemotongan dan menyantap daging anjing. Larangan ini menanggapi aksi protes masyarakat, yang tidak suka melihat hewan itu disiksa.
Menurut kantor berita pemerintah, Xinhua, karnaval itu berlangsung setiap Oktober di Kota Qianxi, provinsi Zhejiang. Karnaval di Qianxi rutin terselenggara sejak 600 tahun lalu untuk merayakan kemenangan suku setempat dari pertempuran.
"Perayaan itu diganti menjadi pameran komoditas moderen pada 1980an. Namun tradisi makan daging anjing tetap dipertahankan," demikian laporan Xinhua Rabu kemarin, seperti yang dikutip kantor berita Reuters.
Beberapa tahun belakangan, para pemilik kios mempertontonkan penyembelihan anjing di depan umum. "Ini untuk menunjukkan bahwa daging anjing itu masih segar, bukan diawetkan di lemari pendingin, sehingga mengurangi kekhawatiran pembeli," lanjut Xinhua.
Namun, tradisi itu justru mengundang kemarahan publik. Seiring makmurnya ekonomi China, makin banyak pula warga yang memelihara anjing. Itulah sebabnya banyak warga memprotes acara makan daging anjing di Qianxi melalui Internet.
"Saya harap pemerintah cepat bertindak sehingga makan daging anjing tidak lagi menjadi kebiasaan. Itu bukan acara karnaval tapi sudah jadi ajang pembantaian," kata seorang pemrotes di Internet.
Protes itu akhirnya didengar pemerintah. Namun, tidak dijelaskan apa langkah pemerintah bila larangan menjagal dan makan daging anjing itu diacuhkan panitia karnaval. (VIVAnews/Rd)
Khadafi: Saya Keluar Sembunyi-sembunyi
Wednesday, 24 August 2011 09:02
"Saya kira Tripoli tidak dalam keadaan bahaya," kata Khadafi.
Tidak diketahui di mana keberadaannya, Khadafi lagi-lagi muncul dan berbicara di layar televisi. Dia mengatakan berhasil lolos dari kompleks kediamannya, Bab Al-Aziziya, secara sembunyi-sembunyi. Dia juga menyerukan rakyat Tripoli untuk melawan tentara pemberontak.
Dilansir Aljazeera, Khadafi berbicara di televisi al-Rai pada Rabu, 24 Agustus 2011. Pada serangan ke komplek kediamannya di Tripoli Selasa sore kemarin, Khadafi mengatakan dia berhasil lolos dan berkeliaran tanpa terlihat oleh kelompok pemberontak.
"Saya keluar dari Tripoli dengan sembunyi-sembunyi, tanpa terlihat orang. Saya kira Tripoli tidak dalam keadaan bahaya," kata Khadafi.
Khadafi juga mengatakan hengkangnya dia dari kompleks kediamannya tersebut adalah salah satu taktik perang yang dijalankannya. Khadafi mengatakan, 64 kali serangan NATO telah menghancurleburkan kediamannya.
Dalam rekaman audio tersebut, Khadafi juga menyerukan rakyat Tripoli untuk tidak gentar. Dia mendesak mereka untuk tidak takut melawan para pemberontak. "Semua rakyat Libya, lelaki dan perempuan harus menyisir Tripoli dan membersihkannya dari para pengkhianat," tegas Khadafi.
Sebelumnya, Khadafi juga telah menyampaikan pesannya melalui stasiun televisi. Dia mengatakan akan terus melawan para pemberontak hingga menang, atau mati sebagai martir.
Juru bicara pemerintahan Khadafi, Moussa Ibrahim, dalam perbincangan via telepon dengan stasiun televisi tersebut, mengklaim bahwa tentara Khadafi masih menguasai 80 persen wilayah Ibukota. Dia mengatakan pasukan pemberontak akan terperangkap. "Kami akan kembali untuk merebut Tripoli," kata Moussa. (kd)
More Articles...
Page 1 of 5



