Deni, 13 Buku Terjemahannya sudah Diterbitkan PT Gramedia
Wednesday, 22 February 2012 09:34
Jakarta, BNP2TKI (21/2) - Dua tahun bekerja di Korea (1994-1996) telah menjadikan Deni Supriyadi (37) menekuni profesi baru sebagai penterjemah buku-buku berbahasa Korea.
Sejak bergabung sebagai penterjemah di penerbit ternama PT Gramedia (2009-2012) Jakarta, Deni sudah menerjemahkan 13 buah buku berbahasa Korea mulai dari buku fisika, sains hingga komik.
Ditemui di laman Jejaring Sosial, Selasa (21/2), Deni menceritakan keberangkatannya ke Korea tahun 1994 melalui PJTKI PT. Binawan. Tahun itu adalah pertama kalinya diadakan program TKI ke Korea.
Dia menceritakan, penempatan Tenaga Kerja Indonesia ke Korea dilakukan oleh Korean Federation Small Medium Business (KFSB) yaitu gabungan usaha kecil dan menengah di Korea -- semacam Kamar Dagang Indonesia (Kadin), sebelum badan itu digantikan dengan program Government to Government (G to G) BNP2TKI pada tahun 2004.
Setelah terdaftar, kata Deni, dia mengikuti training selama 1 bulan. 95% penekanan materinya tentang pengetahuan di tempat kerja (fisik) dan hanya 5% materi tentang pengajaran bahasa Korea. Selama proses pelatihan banyak peserta berguguran.
“Saat program ke Korea dibuka untuk pekerja pabrik yang dibutuhkan pekerja yang fisiknya kuat," kenang suami Dedeh Zubaedah yang kini tinggal di Perum Graha Pratama, Blok III No. Desa Sirna Galeuh, Cianjur, Jawa Barat.
Ketika diterima, Deni masih kuliah di Semester 2 Program D3 Informatika di sebuah perguruan di Sukabumi, Jawa Barat. Akhirnya, ia memutuskan berhenti kuliah dan berangkat ke Korea. “Di samping materi, saya juga ingin mencari pengalaman dan wawasan yang lebih banyak,” ungkapnya.
Di Korea Deni ditempatkan di perusahaan pembuatan aki mobil, Yongjin Co.Ltd di kota Kumi. Jam kerjanya cukup panjang dengan dua shift (waktu kerja) mulai pukul 8 pagi hinga pukul 7 malam dan pukul 7 malam hingga pukul 8 pagi. Perusahaan memberi pilihan libur dia tiap sabtu, Selasa atau jum’at.
Setelah 2 tahun kontrak kerja habis, dia pulang ke Indonesia tahun 1996. Dari tabungannya dia berhasil membeli tanah. Tiga tahun berselang dia menikah dengan Dedeh. Karena kemahirannya berbahasa Korea maka pada tahun 1999 dia diminta PT. Binawan menjadi trainer bahasa Korea untuk para CTKI Korea. Profesi sebagai pengajar itu ditekuni hingga tahun 2004.
Selepas dari PT. Binawan, kata Deni mendapat tawaran dari BLKLN Chivest untuk menangani CTKI Korea angkatan ke-I program G to G sebanyak 200 orang.Untuk mendukung program G to G dia bersama kawan-kawan membentuk lembaga pendidikan bahasa Korea Global language Center (GLC).
Tahun 2010, Deni akhirnya mengundurkan diri dari GLC dan bergabung dengan penerbit PT Gramedia. Dia menuturkan, tidak sembarang orang bisa menjadi penerjemah meskipun orang itu lulusan sekolah penerjemah sekelas Yonsei University asal Korea sekali pun.
“Menerjemahkan itu bukan sekedar aspek teknis tetapi juga wawasan dan kematanganh psikologis,” ujarnya.
Dia bersyukur, pengalamannya bekerja selama 2 tahun di Korea telah memperkaya wawasanntya tentang budaya orang-orang Korea. Budaya disiplin, hormat kepada orangtua, tekun, dedikasi terhadap pekerjaan dan profesional merupakan sifat-sifat yang ia terus kembangkan di lingkungan rumahnya saat ini.
Selain menterjemah, Deni juga aktif mengajar di Lembaga Pendidikan Ketrampilan (LPK) Multi Language Center. Kini, selah 16 tahun tinggal di Indonesia, Deni kembali akan bekerja di Korea.
Deni menuturkan, setiap buku yang ia terjemahkan honor yang didapat sebesar Rp3 juta. Saat ini, ia sudah merampungkan 90 persen karyanya tentang pengantar bahasa Korea. Setelah 3 tahun bergabung dengan PT Gramedia, Deni akhirnya kembali memutuskan untuk bekerja ke Korea.
Tujuannya, kata Deni , ia ingin membuka LPK yang murah bagi para calon TKI yang akan bekerja ke Korea. “LPK Bahasa Korea saat ini terlalu komersial,” tutur Deni. (zul).
Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 10:00



