Deputi Penempatan: Jepang Minta Tambahan 200 TKI Perawat Program G to G

PDFPrintE-mail

Jakarta, BNP2TKI (12/10) - Deputi Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Bidang Penempatan Ade Adam Noch mengatakan penempatan calon nurse atau perawat pasien (kangoshi) dan calon careworker atau pengasuh jompo (kaigofukushishi) ke Jepang Program G to G tahun 2012 merupakan kesempatan yang baik bagi para TKI untuk bekerja di Jepang.

Dengan bekerja di Jepang, para TKI bidang kesehatan itu nantinya bisa melakukan alih pengetahuan dan keterampilan (transfer of knowledge) di tanah air. Karena itu, ke-200 calon TKI kesehatan yang mengikuti pelatihan bahasa Jepang dituntut senantiasa belajar dengan sungguh-sungguh untuk masa depan dan mampu mendorong dan meningkatkan rumah sakit/ panti jompo untuk mempekerjakan tenaga kerja dari Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Ade Adam Noch ketika membuka pelatihan pelatihan bahasa Jepang bagi 200 TKI Perawat di pelatihan bahasa Jepang di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas)  di Jakarta, Rabu (12/10).

Turut hadir pada pembukaan pelatihan bahasa Jepang ini, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori dan Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah BNP2TKI Haposan Saragih. Direktur P4TK Bahasa, Treska R Setiawan dan Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kemenakertrans, Budi Hartawan serta Direktur The Japan Foundation, Tadashi Ogawa.

Menurut Ade,    dari 200 peserta ini terdiri atas peserta laki-laki untuk nurse 25 orang dan careworker 81 orang sementara peserta perempuannya untuk nurse berjumlah 29 orang dan careworker 65 orang.  Mereka telah mengikuti tahapan seleksi administrasi, teknis, psikotes dan pemeriksaan kesehatan dengan ketat.

Sejak tahun 2008, BNP2TKI sudah menempatkan TKI perawat ke Jepanag sebanyak 791 orang. Kini pemerintah Jepang meminta penambahan sebanyak 200 orang dengan deikian jumlah penempatannya menjadi 991 orang.

“Kami mengharapkan para peserta mengikuti pelatihan bahasa Jepang ini dengan serius  karena pada tanggal 17 -18 Desember 2011 akan dilakukan tes pertengahan (mid test) untuk mengetahui perkembangan dan hasilnya,” kata Ade.

Hasil tes, kata Ade, akan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan interview, Japanese Quiz dan Aptitude Test yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 – 21 Desember 2011. Setelah itu mereka akan diberikan kesempatan libur pada 23 Desember 2011 sampai dengan 1 Januari 2012.

Ade menambahkan bahwa proses penerimaan calon TKI nurse dan calon TKI careworker pada tahun 2012 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada penerimaan tahun 2012 pelatihan bahasa Jepang dilaksanakan selama 6 (enam) bulan di Indonesia dan bagi yang diterima (matching) mengikuti pelatihan bahasa Jepang di Jepang selama 6 (enam) bulan.


Meski mereka sudah mengikuti pelatihan bahasa Jepang di Indonesia, belum ada kepastian mereka bisa diterima. Pasalnya, selama masa pelatihan bahasa Jepang mereka akan mengikuti serangkaian proses seleksi yaitu tes bahasa Jepang, interview, Japanese Quiz, Aptitude Test, dan Matching, bilamana matching berarti diterima oleh salah satu rumah sakit atau panti lansia.

“Kami mengharapkan anda semua bisa lulus seleksi dan bekerja di Jepang,” harap Ade.